SOFTWARE EFIT-V


Penjahat semakin kesulitan menyembunyikan wajah mereka, berkat software terbaru bernama EFIT-V yang membantu saksi mengingat dan mengenali tersangka dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dipinjam dari bidang optik dan genetika.

Christopher Solomon dari University of Kent di Canterbury, Inggris memperkenalkan sebuah software, yang disebut sistem EFIT-V, pada rapat tahunan Optical Society's (OSA), yang berlangsung 11-15 Oktober 2009 di San Jose, California

Software ini sedang digunakan oleh 15 departemen kepolisian di Inggris dan 6 negara- Eropa lainnya, termasuk Perancis dan Swiss. Dalam uji coba lapangan yang dilakukan oleh kepolisian Derbyshire, hasilnya dua kali lebih mudah dibandingkan indentifikasi tersangka dengan metode tradisional.

Penegak hukum di seluruh dunia menggunakan pelukis yang menggambar sketsa yang menyatukan bagian-bagian wajah. Saksi kunci menjelaskan ciri-cirniya - seperti rambut panjang, ukuran hidung atau bentuk dagu - dan pelukis menggabungkan ciri-ciri tersebut untuk membuat sebuah gambar wajah. Beberapa departemen kepolisian kini memiliki software yang mengikuti pendekatan yang sama seperti para pelukis sketsa ini lakukan, menciptakan susunan wajah menggunakan database dari ciri-ciri yang diingat oleh saksi.

Masalah dari pendekatan ini, kata Solomon, adalah tidak memperhitungkan bagaimana ingatan yang sebenarnya bekerja. "Ada cukup banyak penelitian dalam bidang psikologi yang menunjukkan kita tidak begitu baik dalam hal ini, pada pengingatan dan penggambaran wajah," kata Solomon.


Softwarenya sendiri menghasilkan wajah-wajah untuk menyesuaikan dengan ingatan saksi, dan software itu semakin dimuktahirkan. Saksi memulai dengan menggambarkan deskripsi umum seperti, "Saya ingat seorang anak laki-laki kulit putih dengan rambut hitam." Kemudian sembilan komputer menghasilkan wajah berbeda-beda yang kira-kira cocok dengan deskripsi yang dihasilkan, dan saksi mengidentifikasi perbandingan terbaik dan terburuknya. Software tersebut menggunakan ciri yang terbaik sebagai template untuk secara otomatis menghasilkan sembilan wajah baru dengan sedikit perbedaan ciri-ciri, berdasarkan apa yang dipelajari dari wajah ditolak.

Perhitungan matematis yang mendasari software ini diambil dari pengalaman Solomon menggunakan optik untuk menggambar turbulensi di atmosfer pada tahun 1990-an. "Saya kemudian menyadari bahwa teknik yang sama dapat diterapkan pada wajah manusia, dimana dalam banyak hal secara matematis mirip dengan turbulensi permukaan gelombang," kata Solomon.

Software ini mengintegrasikan pendekatan dengan algoritma genetika interaktif yang mengubah ciri-ciri berdasarkan pada prinsip-prinsip yang dipinjam dari evolusi. Karakteristik seperti ukuran hidung dan bentuk dagu direpresentasikan sebagai matematika gen yang bermutasi. Saat ciri berubah, pilihan saksi memandu evolusi bentuk wajah.

Peneliti lain telah menggunakan algoritma genetika interaktif yang sama untuk melatih komputer untuk mengomposisi musik, kata Solomon, dengan memilih kombinasi yang pas. Algoritma genetik juga telah digunakan dalam industri otomotif untuk menyesuaikan tampilan tubuh pekerja.

Satu keuntungan dari teknik ini, kata Solomon, adalah hal itu dapat digunakan pada saksi-saksi yang tidak ingat detail tersangka - tetapi mengatakan mereka akan ingat wajah jika mereka melihatnya lagi. Biasanya, polisi pelukis sketsa tidak bisa bekerja dengan orang-orang ini. Dengan menekankan pada pengakuan bukan pada ingatan, " Sistem EFIT- V terbukti cukup efektif bahkan ketika saksi mengatakan mereka tidak dapat menggambarkan orang tersebut," kata Solomon.

Software sekarang mulai diarahkan menuju Amerika Serikat, dimana digunakan oleh para peneliti di universitas. Di masa depan, Solomon berharap untuk bermitra dengan perusahaan AS yang sesuai dengan pasar dan teknologi bagi departemen kepolisian. (Erabaru/ngrh)

2 komentar:

  1. wach,keren nich....
    hayoo,para penjahat mau kemana kau...

    BalasHapus